2.28.2009
Windows 7 Keluar Bulan September
Windows 7, OS baru penerus Windows Vista yang dirilis di bulan Januari 2007 berkemungkinan membantu mendongkrak penjualan PC di tengah resesi global, menurut Chen. Penjualan laptop global tahun ini tidak akan berubah banyak dari 2008, akan terjual sekitar 120 hingga 125 juta unit.
"Windows 7 memiliki kinerja yang jauh lebih baik daripada Windows Vista," kata Daniel Chang, seorang analis industri komputer di Macquarie Securities di Taipei. "Ulasan yang ditulis sangat baik dan Windows 7 memiliki peningkatan drastis di segi tampilan."
Microsoft, produsen software terbesar dunia sebelumnya telah secara resmi mengatakan bahwa OS baru ini akan dirilis sekitar tiga tahun setelah mulai dijualnya Vista, atau bulan Januari 2010. Amelia Agrawal, juru bicara Microsoft yang ditugaskan di Microsoft di Singapura mengulang pernyataan tersebut baru-baru ini.
Akan tetapi, beberapa eksekutif Microsoft mengindikasikan bahwa produk tersebut berkemungkinan debut lebih awal. Di bulan Oktober tahun lalu Bill Veghte, senior VP divisi Windows mengatakan bahwa produk tersebut akan dirilis dalam satu tahun, kira-kira sama dengan prediksi Compal. Di bulan April 2008, pendiri Microsoft Bill Gates juga mengatakan bahwa versi selanjutnya akan dirilis "dalam sekitar setahun."
CEO Microsoft Steve Ballmer beberapa hari lalu menolak untuk memprediksi apakah Windows 7 akan mampu memacu industri PC yang tengah mengalami perlambatan, menambahkan bahwa niat beli konsumen maupun korporat tengah saat ini berkurang, sebuah tren yang akan terus berlanjut. Akan tetapi ia juga mengatakan bahwa Microsoft "memiliki produk yang cukup baik. Ada beberapa orang yang menunda niat belinya, setelah mencoba Vista tetapi tidak ingin menggunakannya, tetapi tetap saja harus kita lihat."
Microsoft yang saat ini masih menguasai lebih dari 90% pangsa pasar PC di dunia menghadapi persaingan yang semakin ketat. Windows kehilangan lebih dari 1% pangsa pasar karena banyaknya pengguna yang beralih menggunakan Mac. Windows juga dalam waktu dekat ini akan mulai bersaing dengan OS Android buatan Google yang walaupun saat ini hanya dipakai di ponsel, akan mulai memasuki segmen netbook.
2.22.2009
Microsoft Gazelle : Browser Modern Berarsitektur Baru

Browser bermula dari aplikasi yang digunakan pengguna untuk mengunjungi halaman situs statik. Seiring dengan berevolusinya internet menjadi tempat yang dinamis, browser seolah-olah menjadi sebuah sistem operasi yang mendaya gunakan sumber daya yang sama untuk berbagai situs yang tidak saling mempercayai (masing-masing situs disebut "principal"). Saat ini, tidak ada browser di dunia, termasuk browser berarsitektur baru seperti IE8 dan Google Chrome yang memiliki arsitektur multi principal.
Tujuan utama dari Gazelle adalah menciptakan sebuah browser dengan tingkat sekuriti tinggi untuk menjelajah aplikasi-aplikasi berbasis web di seluruh penjuru internet. Pada intinya, "Gazelle berusaha membuat browser menjadi sistem operasi yang lebih aman dengan melindungi principal (situs) dari satu sama lain dengan memisahkan sumber daya yang digunakan ke dalam domain mereka masing-masing. Semua pertukaran informasi antara dua principle harus dilakukan melalui kanal yang dijembatani oleh kernel browser."
Untuk Anda yang berpengetahuan teknis mungkin berpikir "bukankah Google Chrome sudah memisahkan semua sumber daya situs ke dalam proses masing-masing?" Arsitektur Chrome dengan arsitektur yang diperkenalkan di Gazelle memiliki dua perbedaan utama:
- Chrome menganggap semua situs/aplikasi dengan domain yang sama sebagai satu principal jadi contohnya mail.google.com dan docs.google.com akan dianggap sebagai satu kesatuan. Gazelle menganggap dua aplikasi yang berbeda ini sebagai principal masing-masing.
- Saat sebuah situs, contohnya igoogle.com menanamkan konten dari situs lain, seperti contohnya konten dari youtube.com dalam sebuah iframe, Chrome akan menempatkan keduanya ke dalam sebuah principal yang sama. Tidak begitu halnya dengan Gazelle
Fungsi Gunung

Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Masa Depan Bumi Saat Matahari Berevolusi

Perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi salah satu efek yang sangat signifikan dalam perubahan kondisi Bumi selama beberapa dekade dan abad ke depan. Namun, bagaimana dengan nasib Bumi jika terjadi pemanasan bertahap saat Matahari menuju masa akhir hidupnya sebagai bintang katai putih? Akankah Bumi bertahan, ataukah masa tersebut akan menjadi masa akhir kehidupan Bumi? Milyaran tahun lagi, Matahari akan mengembang menjadi bintang raksasa merah. Saat itu, ia akan membesar dan menelan orbit Bumi. Akankah Bumi ditelan oleh Matahari seperti halnya Venus dan Merkurius? Pertanyaan ini telah menjadi diskusi panjang di kalangan astronom. Akankah kehidupan di Bumi tetap ada saat matahari menjadi Katai Putih?
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan K.-P. Schr¨oder dan Robert Connon Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah, ekuatornya bahkan sudah melebihi jarak Mars. Dengan demikian, seluruh planet dalam di Tata Surya akan ditelan olehnya. Akan tiba saatnya ketika peningkatan fluks Matahari juga meningkatkan temperatur rata-rata di Bumi sampai pada level yang tidak memungkinkan mekanisme biologi dan mekanisme lainnya tahan terhadap kondisi tersebut.
Saat Matahari memasuki tahap akhir evolusi kehidupannya, ia akan mengalami kehilangan massa yang besar melalui angin bintang. Dan saat Matahari bertumbuh (membesar dalam ukuran), ia akan kehilangan massa sehingga planet-planet yang mengitarinya bergerak spiral keluar. Lagi-lagi pertanyaannya bagaimana dengan Bumi? Akankah Matahari yang sedang mengembang itu mengambil alih planet-planet yang bergerak spiral, atau akankah Bumi dan bahkan Venus bisa lolos dari cengkeramannya?
Perhitungan yang dilakukan oleh K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith menunjukan, saat Matahari menjadi bintang raksasa merah di usianya yang ke 7,59 milyar tahun, ia akan mulai mengalami kehilangan massa. Matahari pada saat itu akan mengembang dan memiliki radius 256 kali radiusnya saat ini dan massanya akan tereduksi sampai 67% dari massanya sekarang. Saat mengembang, Matahari akan menyapu Tata Surya bagian dalam dengan sangat cepat, hanya dalam 5 juta tahun. Setelah itu ia akan langsung masuk pada tahap pembakaran helium yang juga akan berlangsung dengan sangat cepat, hanya sekitar 130 juta tahun. Matahari akan terus membesar melampaui orbit Merkurius dan kemudian Venus. Nah, pada saat Matahari akan mendekati Bumi, ia akan kehilangan massa 4.9 x 1020 ton setiap tahunnya (setara dengan 8% massa Bumi).
Setelah mencapai tahap akhir sebagai raksasa merah, Matahari akan menghamburkan selubungnya dan inti Matahari akan menyusut menjadi objek seukuran Bumi yang mengandung setengah massa yang pernah dimiliki Matahari. Saat itu, Matahari sudah menjadi bintang katai putih. Bintang kompak ini pada awalnya sangat panas dengan temperatur lebih dari 100 ribu derajat namun tanpa energi nuklir, dan ia akan mendingin dengan berlalunya waktu seiring dengan sisa planet dan asteroid yang masih mengelilinginya.
Zona Habitasi yang Baru
Saat ini Bumi berada di dalam zona habitasi / layak huni dalam Tata Surya. Zona layak huni atau habitasi merupakan area di dekat bintang di mana planet yang berada di situ memiliki air berbentuk cair di permukaannya dengan temperatur rata-rata yang mendukung adanya kehidupan. Dalam perhitungan yang dilakukan Schroder dan Smith, temperatur planet tersebut bisa menjadi sangat ekstrim dan tidak nyaman untuk kehidupan, namun syarat utama zona habitasinya adalah keberadaan air yang cair.
Yang menarik, meskipun Bumi tak lagi berada dalam zona habitasi, planet-planet lain di luar Bumi akan masuk dalam zona habitasi baru milik Matahari dan mereka akan berubah menjadi planet layak huni. Zona habitasi yang baru dari Matahari akan berada pada kisaran 49,4 SA - 71,4 SA. Ini berarti areanya akan meliputi juga area Sabuk Kuipert, dan dunia es yang ada disana saat ini akan meleleh. Dengan demikian objek-objek disekitar Pluto yang tadinya mengandung es sekarang justru memiliki air dalam bentuk cairan yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan. Bahkan bisa jadi Eris akan menumbuhkan kehidupan baru dan menjadi rumah yang baru bagi kehidupan.
Bagaimana dengan Bumi?
Apakah ini akhir perjalanan planet Bumi? Ataukah Bumi akan selamat? Berdasarkan perhitungan Schroder dan Smith Bumi tidak akan bisa menyelamatkan diri. Bahkan meskipun Bumi memperluas orbitnya 50% dari orbit yang sekarang ia tetap tidak memiliki pluang untuk selamat. Matahari yang sedang mengembang akan menelan Bumi sebelum ia mencapai batas akhir masa sebagai raksasa merah. Setelah menelan Bumi, Matahari akan mengembang 0,25 SA lagi dan masih memiliki waktu 500 ribu tahun untuk terus bertumbuh.
Sedikit berandai-andai, bagaimana menyelamatkan Bumi? Jika Bumi berada pada jarak 1.15 SA (saat ini 1 SA) maka ia akan dapat selamat dari fasa pengembangan Matahari tersebut. Nah bagaimana bisa membawa Bumi ke posisi itu?? Meskipun terlihat seperti kisah fiksi ilmiah, namun Schroder dan Smith menyarankan agar teknologi masa depan dapat mencari cara untuk menambah kecepatan Bumi agar bisa bergerak spiral keluar dari Matahari menuju titik selamat tersebut.
Yang menarik untuk dikaji adalah, umat manusia seringkali gemar berbicara tentang masa depan Bumi milyaran tahun ke depan, padahal di depan mata, kerusakan itu sudah mulai terjadi. Bumi saat ini sudah mengalami kerusakan awal akibat ulah manusia, dan hal ini akan terus terjadi. Bisa jadi akhir perjalanan Bumi bukan disebabkan oleh evolusi matahari, tapi oleh ulah manusia itu sendiri. Tapi bisa jadi juga manusia akan menemukan caranya sendiri untuk lolos dari situasi terburuk yang akan dihadapi.


